Pengembangan Jati Diri Dan Pertumbuhan Sinar Bahasa yang Memancarkan
Karakter Suatu Bangsa
“Akankah ada seorang Chairil Anwar mudah di provinsiku ?
Akankah ada seorang orator hebat seperti Soekarno di provinsiku ?
Akankah ada seorang aktor hebat seperti Dedy Mizwar di provinsiku ?
Akankah ada seorang duta bahasa seperti Wahyu Adi Raditiya dan
kadek Ridoi Rahayu diprovinsiku ?
Setiap provinsi memiliki momentum untuk melahirkan tokoh negarawan
seperti mereka…
Salah satunya melalui pembelajaran kebahasaan khusunya dalam bahasa
Indonesia.”
Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki keragaman etnik dan
budaya. Salah satu di antaranya adalah keragaman bahasa dan sastra. Keragaman
bahasa dan sastra di Indonesia menjadi kekayaan yang tidak ternilai harganya
karena Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman budaya, seperti
bahasa daerah, agama dan adat istiadat. Peta Bahasa Negara Kesatuan Republik
Indonesia (2008) telah mengidentifikasi 442 bahasa daerah di Indonesia.
Bertolak dari keragaman itu, bangsa Indonesia menjadi lebih paham akan arti
persatuan. Meskipun beragam latar bahasanya, bangsa Indonesia terhubung melalui
bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Meskipun penggunaan bahasa Indonesia
cenderung tergusur oleh pemakaian bahasa asing, bahasa Indonesia masih tetap
memegang fungsinya sebagai sarana komunikasi yang menyatukan bangsa Indonesia.
Oleh karena itu, pengutamaan bahasa Indonesia sebagai identitas nasional bukan
hanya tugas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB), melainkan juga tugas seluruh rakyat Indonesia.
Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 menjadi bukti nyata peran pemuda
dalam membangun konsep kebangsaan Indonesia. Semangat dan ketokohan para pemuda
itu harus dipertahankan dan diperkuat agar tonggak-tonggak kebangsaan tetap
kokoh dan terjaga.
Salah satu bunyi dari sumpah pemuda "Menjunjung tinggi bahasa
persatuan bahasa Indonesia." Itu berarti menaati dan memuliakan bahasa
Indonesia sebagai bahasa peratuan dan nasional Indonesia.
Namun,di era globalisasi seperti sekarang ini merupakan tantangan
bagi bangsa Indonesia untuk dapat mempertahankan diri di tengah-tengah
pergaulan antar bangsa yang sangat rumit. Untuk itu bangsa Indonesia harus
mempersiapkan diri dengan baik dan penuh perhitungan. Salah satu hal yang perlu
diperhatikan adalah masalah jati diri bangsa yang diperlihatkan melalui jati
diri bahasa Indonesia, memperlihatkan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang
sederhana, tata bahasa mempunyai sistem sederhana, mudah dipelajari, dan tidak
rumit. Kesederhanaan dan ketidakrumitan inilah salah satu hal yang mempermudah
bangsa asing ketika mempelajari bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia menjadi ciri
budaya bangsa Indonesia yang dapat diandalkan di tengah- tengah pergaulan antar
bangsa pada era globalisasi ini.
Bangsa Indonesia sebagai pemakai bahasa Indonesia, seharusnya
bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. Dengan bahasa
Indonesia, mereka bisa menyampaikan perasaan dan pikirannya dengan sempurna dan
lengkap kepada orang lain .Sikap kesetiaan berbahasa Indonesia terungkap jika
bangsa Indonesia lebih suka memakai bahasa Indonesia dari pada bahasa asing dan
bersedia menjaga agar pengaruh asing tidak terlalu belebihan. Yang perlu
dipahami adalah sikap positif terhadap bahasa Indonesia ini tidak berarti sikap
berbahasa yang tertutup dan kaku. Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus bisa
membedakan mana pengaruh positif dan mana pengaruh yang negatif terhadap
perkembangan bahasa Indonesia. Sikap positif seperti inilah yang bisa
menanamkan rasa percaya diri bangsa Indonesia bahwa bahasa Indonesia memberikan
perubahan signifikan bagi terciptanya disiplin berbahasa. Disamping itu,
disiplin berbahasa nasional sangat diperlukan untuk menghadapi pergaulan antar
bangsa dan era globalisasi ini. Seseorang yang berdisiplin berbahasa nasional
menunjukan rasa cinta kepada bahasa, tanah air, dan NKRI.
Penggunaan Bahasa Indonesia dan Daerah serta bahasa Asing di
masyarakat sebagai wahana pengembangan Jati diri bangsa perlu di lakukan karena
berbagai faktor ,di antaranya kuatnya pengaruh negatif media massa (cetak dan
elektronik) terhadap penggunaan bahasa Indonesia di masyarakat menyebabkan
banyak terjadi salah kaprah sehingga mengalami pelbagai "perlakuan"
oleh masyarakat pemakainya.Kurangnya perlindungan terhadap bahasa daerah
(bahasa ibu) yang mulai terancam punah juga belum optimalnya pemanfaatan budaya
(seni) dalam meningkatkan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional.
Selain itu masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam penggunaan bahasa
Indonesia yang benar serta rendahnya pemahaman masyarakat terhadap bahasa
sebagai pemersatu dan jati diri bangsa sehingga
keteladanan dalam menggunakan bahasa Indonesia yang benar semakin
berkurang.Begitupun dengan interaksi dengan bangsa lain yang kurang dapat
diterima dengan baik akibat kendala tidak mahir berbahasa asing membuat
komunikasi menjadi sedikit kacau.
Maka dari itu perlunya pembagian pemakaian bahasa Indonesia,daerah
serta asing secara seimbang yaitu menggunakan bahasa yang sesuai dengan porsi,
konteks, situasi, dan kondisi yang ada.Dengan menguasai bahasa Indonesia dengan
baik dan benar, peduli sastra Indonesia, serta lancar berbahasa daerah dan
asing dapat memberikan manfaat yang baik bagi bangsa Indonesia maupun diri
sendiri. Manfaat bagi bangsa Indonesia, yaitu menjaga bahasa Indonesia sebagai
bahasa kesatuan, melestarikan bahasa daerah sebagai kekayaan budaya serta
meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia dengan penguasaan bahasa asing di
masyarakat. Manfaat bagi individu yang menguasai bahasa dan sastra Indonesia,
daerah serta asing, yaitu dapat diterima di lingkungan masyarakat dengan mudah
karena pandai berkomunikasi, dapat lebih arif dalam menjalani kehidupan dengan
bersastra, dan meningkatkan mobilitas dengan menguasai bahasa asing.
Berkaitan dengan hal tersebut, adanya ajang pemilihan duta bahasa
yang telah berlangsung dari tahun ke tahun sudah sepantasnya para peserta duta
bahasa yang berasal dari berbagai daerah dapat diberdayakan sebagai mitra kerja
pusat bahasa untuk diterjunkan ke daerah asal masing-masing untuk melakukan
Program Peduli Bahasa sehingga ajang tersebut tidak terkesan sia-sia tanpa ada
kegiatan yang berkelanjutan.
Jadi,menggunakan bahasa Indonesia ,Daerah,serta bahasa Asing secara
seimbang dalam kehidupan sehari-hari merupakan salah satu cara untuk
mengembangkan karakter serta jati diri bangsa.Dimana penguasaan bahasa asing
juga turut menyumbangkan manfaat yaitu masyarakat Indonesia bisa memperkenalkan
budaya bangsa sendiri serta dapat berkomunikasi dengan lancar ataupun bertukar
pendapat dengan baik sehingga kita tidak akan tertinggal dari bangsa lain dalam
hal ilmu pengetahuan,teknologi,maupun pergaulan internasional.
Hal ini tentu membutuhkan banyak dukungan serta peran masyarakat
sendiri dalam membentuk jati diri serta karakter bangsa agar tercipta generasi
muda sebagai generasi penerus bangsa yang bangga terhadap bahasa Indonesia
namun tetap terbuka pandangannya terhadap bahasa lain. Dengan meningkatkan rasa
cinta pada bahasa Indonesia secara otomatis meningkatkan rasa cinta tanah air.
Sehingga terbentuk karakter serta jati diri bangsa Indonesia yang sesuai dengan
pepatah bahwa sesungguhnya "Bahasa Menunjukan karakter suatu Bangsa".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar