Senin, 07 Oktober 2013


Pengembangan Jati Diri Dan Pertumbuhan Sinar Bahasa yang Memancarkan Karakter Suatu Bangsa

“Akankah ada seorang Chairil Anwar mudah di provinsiku  ?
Akankah ada seorang orator hebat seperti Soekarno di provinsiku ?
Akankah ada seorang aktor hebat seperti Dedy Mizwar di provinsiku ?
Akankah ada seorang duta bahasa seperti Wahyu Adi Raditiya dan kadek Ridoi Rahayu diprovinsiku ?
Setiap provinsi memiliki momentum untuk melahirkan tokoh negarawan seperti mereka…
Salah satunya melalui pembelajaran kebahasaan khusunya dalam bahasa Indonesia.”

Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki keragaman etnik dan budaya. Salah satu di antaranya adalah keragaman bahasa dan sastra. Keragaman bahasa dan sastra di Indonesia menjadi kekayaan yang tidak ternilai harganya karena Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman budaya, seperti bahasa daerah, agama dan adat istiadat. Peta Bahasa Negara Kesatuan Republik Indonesia (2008) telah mengidentifikasi 442 bahasa daerah di Indonesia. Bertolak dari keragaman itu, bangsa Indonesia menjadi lebih paham akan arti persatuan. Meskipun beragam latar bahasanya, bangsa Indonesia terhubung melalui bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Meskipun penggunaan bahasa Indonesia cenderung tergusur oleh pemakaian bahasa asing, bahasa Indonesia masih tetap memegang fungsinya sebagai sarana komunikasi yang menyatukan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, pengutamaan bahasa Indonesia sebagai identitas nasional bukan hanya tugas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB), melainkan  juga tugas seluruh rakyat Indonesia.
Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 menjadi bukti nyata peran pemuda dalam membangun konsep kebangsaan Indonesia. Semangat dan ketokohan para pemuda itu harus dipertahankan dan diperkuat agar tonggak-tonggak kebangsaan tetap kokoh dan terjaga.
Salah satu bunyi dari sumpah pemuda "Menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia." Itu berarti menaati dan memuliakan bahasa Indonesia sebagai bahasa peratuan dan nasional Indonesia.
Namun,di era globalisasi seperti sekarang ini merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia untuk dapat mempertahankan diri di tengah-tengah pergaulan antar bangsa yang sangat rumit. Untuk itu bangsa Indonesia harus mempersiapkan diri dengan baik dan penuh perhitungan. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah masalah jati diri bangsa yang diperlihatkan melalui jati diri bahasa Indonesia, memperlihatkan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang sederhana, tata bahasa mempunyai sistem sederhana, mudah dipelajari, dan tidak rumit. Kesederhanaan dan ketidakrumitan inilah salah satu hal yang mempermudah bangsa asing ketika mempelajari bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia menjadi ciri budaya bangsa Indonesia yang dapat diandalkan di tengah- tengah pergaulan antar bangsa pada era globalisasi ini.
Bangsa Indonesia sebagai pemakai bahasa Indonesia, seharusnya bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. Dengan bahasa Indonesia, mereka bisa menyampaikan perasaan dan pikirannya dengan sempurna dan lengkap kepada orang lain .Sikap kesetiaan berbahasa Indonesia terungkap jika bangsa Indonesia lebih suka memakai bahasa Indonesia dari pada bahasa asing dan bersedia menjaga agar pengaruh asing tidak terlalu belebihan. Yang perlu dipahami adalah sikap positif terhadap bahasa Indonesia ini tidak berarti sikap berbahasa yang tertutup dan kaku. Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus bisa membedakan mana pengaruh positif dan mana pengaruh yang negatif terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Sikap positif seperti inilah yang bisa menanamkan rasa percaya diri bangsa Indonesia bahwa bahasa Indonesia memberikan perubahan signifikan bagi terciptanya disiplin berbahasa. Disamping itu, disiplin berbahasa nasional sangat diperlukan untuk menghadapi pergaulan antar bangsa dan era globalisasi ini. Seseorang yang berdisiplin berbahasa nasional menunjukan rasa cinta kepada bahasa, tanah air, dan NKRI.
Penggunaan Bahasa Indonesia dan Daerah serta bahasa Asing di masyarakat sebagai wahana pengembangan Jati diri bangsa perlu di lakukan karena berbagai faktor ,di antaranya kuatnya pengaruh negatif media massa (cetak dan elektronik) terhadap penggunaan bahasa Indonesia di masyarakat menyebabkan banyak terjadi salah kaprah sehingga mengalami pelbagai "perlakuan" oleh masyarakat pemakainya.Kurangnya perlindungan terhadap bahasa daerah (bahasa ibu) yang mulai terancam punah juga belum optimalnya pemanfaatan budaya (seni) dalam meningkatkan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional. Selain itu masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam penggunaan bahasa Indonesia yang benar serta rendahnya pemahaman masyarakat terhadap bahasa sebagai pemersatu dan jati diri bangsa sehingga  keteladanan dalam menggunakan bahasa Indonesia yang benar semakin berkurang.Begitupun dengan interaksi dengan bangsa lain yang kurang dapat diterima dengan baik akibat kendala tidak mahir berbahasa asing membuat komunikasi menjadi sedikit kacau.
Maka dari itu perlunya pembagian pemakaian bahasa Indonesia,daerah serta asing secara seimbang yaitu menggunakan bahasa yang sesuai dengan porsi, konteks, situasi, dan kondisi yang ada.Dengan menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar, peduli sastra Indonesia, serta lancar berbahasa daerah dan asing dapat memberikan manfaat yang baik bagi bangsa Indonesia maupun diri sendiri. Manfaat bagi bangsa Indonesia, yaitu menjaga bahasa Indonesia sebagai bahasa kesatuan, melestarikan bahasa daerah sebagai kekayaan budaya serta meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia dengan penguasaan bahasa asing di masyarakat. Manfaat bagi individu yang menguasai bahasa dan sastra Indonesia, daerah serta asing, yaitu dapat diterima di lingkungan masyarakat dengan mudah karena pandai berkomunikasi, dapat lebih arif dalam menjalani kehidupan dengan bersastra, dan meningkatkan mobilitas dengan menguasai bahasa asing.
Berkaitan dengan hal tersebut, adanya ajang pemilihan duta bahasa yang telah berlangsung dari tahun ke tahun sudah sepantasnya para peserta duta bahasa yang berasal dari berbagai daerah dapat diberdayakan sebagai mitra kerja pusat bahasa untuk diterjunkan ke daerah asal masing-masing untuk melakukan Program Peduli Bahasa sehingga ajang tersebut tidak terkesan sia-sia tanpa ada kegiatan yang berkelanjutan.
Jadi,menggunakan bahasa Indonesia ,Daerah,serta bahasa Asing secara seimbang dalam kehidupan sehari-hari merupakan salah satu cara untuk mengembangkan karakter serta jati diri bangsa.Dimana penguasaan bahasa asing juga turut menyumbangkan manfaat yaitu masyarakat Indonesia bisa memperkenalkan budaya bangsa sendiri serta dapat berkomunikasi dengan lancar ataupun bertukar pendapat dengan baik sehingga kita tidak akan tertinggal dari bangsa lain dalam hal ilmu pengetahuan,teknologi,maupun pergaulan internasional.
Hal ini tentu membutuhkan banyak dukungan serta peran masyarakat sendiri dalam membentuk jati diri serta karakter bangsa agar tercipta generasi muda sebagai generasi penerus bangsa yang bangga terhadap bahasa Indonesia namun tetap terbuka pandangannya terhadap bahasa lain. Dengan meningkatkan rasa cinta pada bahasa Indonesia secara otomatis meningkatkan rasa cinta tanah air. Sehingga terbentuk karakter serta jati diri bangsa Indonesia yang sesuai dengan pepatah bahwa sesungguhnya "Bahasa Menunjukan karakter suatu Bangsa".